Minggu, 25 Agustus 2019

PRINSIP-PRINSIP DISIPLIN KELAS

PRINSIP-PRINSIP DISIPLIN KELAS

   A.    PENGERTIAN DISIPLIN
Disiplin adalah kesadaran untuk melakukan sesuatu pekerjaan dengan tertib dan teratur sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku dengan penuh tanggung jawab tanpa paksaan dari siapapun (AsyMas’udi, 2000) ”.
Disiplin adalah kesadaran untuk melakukan sesuatu pekerjaan dengan tertib dan teratur sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku dengan penuh tanggung jawab tanpa paksaan dari siapapun. Disiplin adalah suatu keadaan tertib di mana orang-orang yang tergabung dalam suatu organisasi tunduk pada peraturan-peraturan yang telah ada dengan rasa senang.
Dengan disiplin dimaksudkan sebagai upaya untuk mengatur perilaku anak dalam mencapai tujuan pendidikan, karena ada perilaku yang harus dicegah atau dilarang, dan sebaliknya, harus dilakukan. Pembentukan disiplin pada saat sekarang buakn sekedar menjadikan anak agar patuh dan taat pada atyran dan tata tertib tanpa alas an sehingga mau menerima begitu saja, melainkan sebagai usaha mendisiplinkan diri sendiri (self discipline). Artinya ia berperilaku baik, patuh dan taat pada aturan bukan karena paksaan dari orang lain atau guru melainkan karena kesadaran dari dirinya.
Disiplin bukanlah kepatuhan lahiriah, bukanlah paksaan, bukanlah ketaatan pada otoritas gurunya untuk menuruti aturan. Disiplin adalah suatu sikap batin, bukan kepatuhan otomatis. Siswapun bertanggung jawab untuk menciptakan suasana kelas yang baik. Suasana kelas yang tidak tegang, ada kebebasan tapi ada pula kerelaan mematuhi peraturan dan tata tertib sekolah.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa disiplin adalah ketaatan dan ketepatan pada suatu aturan yang dilakukan secara sadar tanpa adanya dorongan atau paksaan pihak lain atau suatu keadaan di mana sesuatu itu berada dalam tertib, teratur dan semestinya serta tiada suatu pelanggaran-pelanggaran baik secara langsung maupun tidak langsung.

   B.     BENTUK-BENTUK DISIPLIN KELAS
1.      Disiplin Tradisional
Secara tradisional, disiplin diartikan sebagai kepatuhan terhadap pengendalian dari luar. Disiplin adalah ketaatan atau kepatuhan, yaitu ketaatan seseorang terhadap tata tertib atau kaidah- kaidah hidup lainnya. Disiplin tradisional adalah disiplin yang bersifat menekan, menghukum, mengawasi, memaksa dan akibatnya merusak penilaian yang terdidik.
2.      Disiplin modern
Disiplin modern adalah berusaha menciptakan situasi yang memungkinkan agar orang yang yang di didik dapat mengatur dirinya melalui situasi yang akrab, hangat, bebas dari rasa takut sehingga orang yang di didik mengembangkan kemampuan dirinya.
3.      Disiplin liberal
Yang dimaksud disiplin liberal adalah disiplin yang diberikan kepada anak sehingga anak memiliki kebebasan tanpa batas.

  C.  ADAPUN PRILAKU  BEBERAPA MACAM BENTUK-BENTUK DISIPLIN BELAJAR DI KELAS YANG HENDAKNYA DILAKUKAN OLEH PARA SISWA DALAM KEGIATAN BELAJARNYA
1.      Disiplin siswa hadir ke sekolah
Dalam suatu kelas kedisiplinan siswa sangat penting untuk kemajuan sekolah itusendiri dan untuk kemajuan untuk siswa itu sendiri. Sekolah dan siswa yang tertip akan menciptakan proses pembelajaran yang baik. Namun sebaliknya, disekolah dan kelas yang kurang tertip kondisinya akan jauh berbeda dan proses pembelajaran menjadi kurang efektif. Meningkatkan kedisiplinan terhadap siswa sangat penting dilakukan oleh sekolah, mengingat sekolah dan siswa merupakan tempat dan generasi penerus bangsa. Salah satu factor yang membantu para siswa meraih sukses dimasa depa yaitu dengan kedisiplinan.
2.      Disiplin siswa dalam mengerjakan tugas
Disiplin siswa dalam mengerjakan tugas sangat penting diterapkan, karena siswa yang disiplin merupakan siswa yang belajar dengan baik. Apabila diri siswa telah disiplin dalam mengerjakan tugasnya maka suatu pembelajaran akan lebih terarah dan tingkat pencapaian suatu pembelajaran akan lebih baik. Maka dari itu guru harus membangun kedisiplinan kepada siswa dalam mengerjakan tugasnya dengan cara memberikan suatu peraturan berupa ancaman yang ringan seperti: besok tugas dikumpulkan, bagi yang tidak mengumpulkan tugas nilainya tidak ada. Dengan diberikan ancaman yang demikian bisa membuat siswa takut tidak mendapatkan nilai. Hal ini bisa membuat siswa lebih giat dalam mengerjakan tugas.
3.      Disiplin siswa dalam mengikuti pelajaran di sekolah
Dalam suatu sekolah pasti ada yang namanya disiplin siswa dalam mengikuti pelajaran disekolah. Disiplin siswa dalam mengikuti pelajaran telah dibuat aturannya oleh sekolah. Guru hanya mengarahkan siswa untuk disiplin dalam belajar. Sedangkan siswa mengikuti aturan seekolah mengenai disiplin dalam belajar tersebut. Aturan yang dibuat oleh sekolah tersebut memiliki sanksi tersendiri. Apabila guru siswa melanggar maka siswa harus menerima sanksi tersebut.
4.      Disiplin siswa dalam menaati tata tertib di sekolah
Dalam suatu sekolah pasti memiliki disiplin siswa dalam menaati tata tertib di sekolah. Tata tertib sekolah ini dibuat sedemikan rupa untuk siswa, guru, dan tata usaha, maupun anggota sekolah lainnya mengikuti aturan yang dibuat oleh sekolah tersebut. Tujuan dari disiplin siswa dalam menati tata tertib di sekolah untuk kemajuan siswa dan sekolah itu sendiri.

   D.    CONTOH BEBERAPA BENTUK TATA TERTIB DIKELAS DAN DISEKOLAH
1.      Pelajaran akan dimulai setiap jam 07.30 setiap harinya kecuali Senin (Upacara bendera)
2.      Siswa harus berada didalam kelas paling lambat 10 menit sebelum jam pelajaran dimulai
3.    Siswa tidak diperkenankan keluar masuk ruang kelas tanpa seizing dari guru yang sedang mengajar.

FACTOR-FAKTOR MEMPENGARUHI BELAJAR DI KELAS


FACTOR-FAKTOR MEMPENGARUHI BELAJAR DI KELAS

   A.    Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar
Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya, tetapi dapat dikelompokkan menjadi dua golongan yaitu :
1.       faktor intern
Faktor interen adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar. Faktor ini meliputi,
a.       Faktor jasmani
Proses seorang siswa akan terganggu jika kesehatan siswa tersebut terganggu selain itu juga ia akan cepat lelah kurang bersemangat dan lain-lain, demikian juga apabila ia cacat tubuh.
b.       Faktor psikologis
1)      Intelegensi
Dalam situasi yang sama, siswa mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil kendatipun begitu, siswa yang mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi belum tentu berhasil dalam belajar. Hal ini disebabkan belajar adalah suatu proses yang kompleks dengan banyak faktor yang mempengaruhinya. Siswa yang memiliki tingkat intelegensi normal dapat berhasil dengan baik dalam belajar jika kondisi yang diciptakan mendukung terjadi pembelajaran yang efektif dan efisien.
2)      Perhatian
Untuk menjamin hasil belajar yang baik. Siswa harus mempunyai perhatian yang penuh terhadap bahan yang dipelajarinya. Untuk tumbuh perhatian maka bahan pelajaran itu harus baik.
3)      Minat
Minat besar pengaruhnya terhadap belajar anak. Bila pelajaran tidak sesuai dengan minat siswa, maka siswa tidak dapat belajar dengan sebaik-baiknya minat anak dapat ditumbuhkan dengan berbagai macam cara yaitu dengan memvariasikan media pembelajaran. Mengembangkan metode pembelajaran, menjelaskan hal-hal yang menarik dan berguna bagi kehidupan dan  lain-lain
4)      Bakat
Jika bahan pelajaran yang dipelajari oleh siswa berbakat maka pelajaran itu akan cepat dikuasai, sehingga hasil pelajaran nya pun akan baik, lain terhadap anak yang kurang berbakat, guru harus bersabar dan telaten melayani mereka yaitu dengan sering mengulangi/menjelaskan bahan, akhirnya siswa/I itu diharapkan akan dengan menguasai bahan yang diajarkan
5)      Motif
Proses belajar mengajar harus memperhatikan motif belajar siswa atau faktor-faktor yang mendorong belajar siswa maka dengan guru dapat mengajak para siswa untuk berfikir dan memusatkan perhatian terhadap pembelajaran dan merencanakan melaksanakan kegiatan yang berhubungan serta menunjang belajar
6)      Kematangan
Kematangan adalah fase pertumbuhan sekarang. Kematangan belum berarti siswa dapat melaksanakan kegiatan secara terus menerus agar kematangan itu dapat dikembangkan pada diri siswa maka perlu di ciptakan suatu kondisi yang memungkinkan kematangan itu dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan cara memberikan latihan ynag terus menerus dan konsisten, pemberian tugs yang bertingkat dan berkesinambungan dari sederhana ke kompleks
c.       Faktor Kelelahan 
Kelelahan baik jasmani maupun rohani dapat mempengaruhi keberhasilan dalam belajar. Oleh karena itu guru harus memberikan pengertian kepada siswa agar menghindari terjadinya kelelahan dalam belajar dengan cara para siswa diberi penjelasan agar mereka mengusahakan tidur dan istirahat yang cukup dan teratur, mengusahakan variasi dalam belajar. Oleh raga yang cukup
2.      faktor eksternal
Faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu,
a.       faktor keluarga
Para siswa yang sedang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga berupa
1)      Cara orang tua mendidik sikap dan perhatian orang tua
2)      Berhubungan antar keluarga
3)      Suasana rumah
4)      Keadaan ekonomi
5)      Latar belakang kebudayaan orang tua
b.      Faktor sekolah
Yang mempengaruhi, belajar meliputi hal-hal yang berkaitan dengan metode mengajar, kurikulum, hubungan guru dengan siswa, siswa dengan siswa, disiplin sekolah, peralatan, waktu sekolah, metode pembelajaran, tugas sekolah.
c.       Masyarakat
Masyarakat merupakan faktor ekstern yang juga berpengaruh terhadap perkembangan pribadi siswa yang pada akhirnya mempengaruhi terhadap keberhasilan siswa dalam belajar. Pengaruh itu terjadi karena keberadaan siswa dalam masyarakat. Faktor ini banyak kaitan dengan
1)      Kegiatan siswa dalam masyarakat
2)      Media yang beredar dalam masyarakat
3)      Pengaruh teman bergaul
4)      Pola hidup masyarakat

    B.     Mengatur kondisi kelas dan iklim belajar siswa
a.       Kondisi Fisik
Lingkungan fisik tempat belajar mempunyai pengaruh penting terhadap hasil belajar. Lingkungan fisik yang menguntungkan dan memenuhi syarat akan mendukung meningkatnya intensitas pembelajaran siswa dan mempunyai pengaruh positif terhadap pencapaian tujuan pengajaran
Guru sebagai seorang pengajar/pendidik harus dapat menciptakan lingkungan kelas yang membantu perkembangan pendidikan para peserta didik. Melalui teknik motivasi yang akurat, guru dapat memberikan kontribusi iklim kelas yang sehat, kondisi dan lingkungan hendaknya menjadi perhatian dan kepedulian guru agar siswa dapat belajar secara optimal. Kondisi dan lingkungan yang perlu menjadi perhatian dalam menunjang terciptanya pembelajaran sebagai berikut :
a)      Ruang tempat berlangsungnya pembelajaran
Ruang tempat belajar harus memungkinkan para peserta didik dapat bergerak leluasa tidak berdesak-desakan sehingga tidak saling menggangu satu sama lainnya pada saat terjadi aktivitas pembelajaran
Besarnya ruang kelas sangat tergantung pada berbagai hal antara lain.
1.      Jenis kegiatan (kegiatan pertemuan tatap muka klasikal dalam kelas atau bekerja dengan praktikum)
2.      Jumlah siswa yang melakukan kegiatan
Jika ruangan yang dipakai teratur mempergunakan hiasan, pakailah hiasan yang mempunyai nilai pendidikan dapat secara langsung memberi daya terapi bagi anak-anak pelanggar disiplin
b)      Pengaturan tempat duduk
Dalam mengatur tempat duduk yang penting adalah memungkinkan terjadinya tatap muka dengan posisi it, guru sekaligus dapat mengontrol tingkah laku para peserta didiknya pengaturan tempat duduk akan mempengaruhi kelancaran pengaturan proses pembelajaran. Beberapa kemungkinan dalam pengaturan tempat duduk seperti dibawah ini.
1.      Pola deret atau berbaris, berjajar
Pengaturan seperti ini adalah pengaturan yang sangat populer pada umumnya tempat duduk siswa diatur menurut tinggi pendeknya siswa pada situasi tertentu misalnya, jika ada siswa yang tidak dapat melihat jarak atau pendengaran yang agak kurang atau banyak berbuat gaduh maka orang yang seperti ini didudukkan di deretan depan, tanpa menghiraukan tinggi rendahnya siswa
2.      Pola susunan kelompok
Cara ini memungkinkan siswa dapat berkomunikasi dengan mudah antara satu dengan yang lainnya dan dapat berpindah dari satu kelompok lain secara bebas. Pola ini memudahkan siswa untuk bekerja sama dan saling menolong satu sama lain.
3.      Pola formasi tepal kuda
Pola ini menempatkan posisi guru berada ditentang-tengah para siswa. Pola ini di pakai jika banyak memerlukan diskusi antar siswa atau dengan guru. Pengaturan seperti ini memberi kemudahan kepada para siswa untuk saling berkomunikasi dan berkonsultasi.
4.      Pola lingkaran atau persegi
Pola pengaturan seperti ini baik juga untuk mengajar yang disajikan dengan metode diskusi. Otoritas guru sama sekali tidak berpusat dan kepemimpinan formal tidak berperan sama sekali
c)      Ventilasi dan pengaturan cahaya
Suhu, ventilasi dan penerangan (kendatipun guru sulit mengaturnya tapi sudah tersedia ) adalah aset penting untuk terciptanya suasana belajar yang nyaman, oleh karena itu ventilasi harus cukup menjamin kesehatan siswa.
d)     Pengaturan penyimpanan barang-barang
Barang-barang hendaknya disimpan pada tempat khusus yang mudah dicapai kalau segera diperlukan dan akan dipergunakan bagi kepentingan kegiatan belajar. Barang-barang yang karena nilai praktisnya tinggi dan dapat di simpan di ruang kelas seperti buku belajar, pedoman kurikulum, kartu pribadi dan lain sebagainya.
  
    C.    Kondisi Yang Mempengaruhi Penciptaan Iklim Kelas
1.      Kondisi Sosio-Emosional
Kondisi sosio emosional dalam kelas akan mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap proses belajar mengajar, kegairahan siswa dan efektifitas tercapainya tujuan pengajaran. Kondisi sosio-emosional tersebut meliputi :
a.       Tipe kepemimpinan
Peranan guru dan tipe kepemimpinan guru akan mewarnai suasana emosional di dalam kelas. Apakah guru melaksanakan kepemimpinannya secara demokratis, laisez faire atau demokratis.Kesemuanya itu memberikan dampak kepada peserta didik.Tipe kepemimpinan guru, artinya adalah fungsi yang melakat pada guru ketika berada dalam kelas. Gaya apa yang muncul ketika guru melaksanakan peran sebagai pemimpin dalam pembelajaran di kelas. Apakah gaya otoriter segala sesuatunya diatur dan diarahkan oleh sendiri dan siswa tidak diberikan kesempatan untuk terlibat didalamnya, atau gaya demokrasi dimana terjadi proses timbal balik antara guru dan murid sesuai dengan peranannya masing-masing.
b.      Sikap guru
Sikap guru dalam menghadapi siswa yang melanggar peraturan sekolah hendaknya tetap sabar, dan tetap bersahabat dengan suatu keyakinan bahwa tingkah laku siswa akan dapat diperbaiki. Kalaupun guru terpaksa membenci, bencilah tingkah lakunya bukan membenci siswanya. Terimalah siswa dengan hangat sehingga ia insyaf akan kesalahannya. Berlakulah adil dalam bertindak. Ciptakan satu kondisi yang menyebabkan siswa sadar akan kesalahannya sehingga ada dorongan untuk memperbaiki kesalahannya. sikap yang diperlihatkan oleh guru di depan kelas atau di luar kelas yang akan mempengaruhi mood anak, apakah anak merasa tertarik dengan sikap guru atau malah tidak tertarik. Sikap yang baik sebagai seorang guru, bapak/ibu, kakak, orang dewasa yang memberikan bimbingan tentunya adalah hal yang paling baik diperlihatkan
c.       Suara guru
Suara guru, walaupun bukan faktor yang besar, turut mempengaruhi dalam proses belajar mengajar. Suara yang melengking tinggi atau senantiasa tinggi atau malah terlalu rendah sehingga tidak terdengar oleh siswa akan mengakibatkan suasana gaduh, bisa jadi membosankan sehingga pelajaran cenderung tidak diperhatikan. Suara hendaknya relatif rendah tetapi cukup jelas dengan volume suara yang penuh dan kedengarannya rileks cenderung akan mendorong siswa untuk memperhatikan pelajaran, dan tekanan suara hendaknya bervariasi agar tidak membosankan siswa.
d.      Pembinaan hubungan baik (raport)
Pembinaan hubungan baik (raport) antara guru dan siswa dalam masalah pengelolaan kelas adalah hal yang sangat penting.Dengan terciptanya hubungan baik guru-siswa, diharapkan siswa senantiasa gembira, penuh gairah dan semangat, bersikap optimistik, relaistik dalam kegiatan belajar yang sedang dilakukannya serta terbuka terhadap hal-hal yang ada pada dirinya. Pembinaan hubungan baik, hubungan antara guru dengan murid harus dibangun berdasarkan fungsi masing-masing dalam konteks belajar mengajar dikelas, akan tetapi apabila memungkinkan dapat juga dibangun sifat-sifat kekeluargaan dan keakraban yang menyebabkan siswa merasa nyaman dan aman berhubungan seperti dengan ibu dan bapaknya dirumah.
e.       Kondisi Organisasional
Kegiatan rutin yang secara organisasional dilakukan baik tingkat kelas maupun tingkat sekolah akan dapat mencegah masalah pengelolaan kelas. Dengan kegiatan rutin yang telah diatur secara jelas dan telah dikomunikasikan kepada semua siswa secara terbuka sehingga jelas pula bagi mereka, akan menyebabkan tertanamnya pada diri setiap siswa kebiasaan yang baik. Di samping itu mereka akan terbiasa bertingkah laku secara teratur dan penuh disiplin pada semua kegiatan yang bersifat rutin itu. Kegiatan rutinitas tersebut anatar lain:
a)      Pergantian pelajaran, ketika terjadi penggantian dalam pelajaran harus disikapi oleh guru karena dalam proses ini ada jeda (kekosongan) yang memungkinkan terjadinya interaksi yang tidak diharapkan dari siswa dengan siswa lainnya. Perlu disikapi dengan arif bahwa ketika mengahiri pelajaran guru tidak terlalu cepat karena guru selanjutnya apakah sudah tiba dan apabila belum maka masa jeda itu terlalu lama.
b)      Guru berhalangan hadir, guru yang berhalangan hadir akan menyebabkan terjadinya kekosongan dalam proses belajar mengajar. Untuk menghindari terjadinya keributan atau perilaku-perilaku yang tidak diharapkan dari siswa seperti berlarian kesanaha kemari menggangu kelas lain, dan menimbulkan kerusakan pada fasilitaskelas, maka guru piket harus paham apa yang terjadi dan mempersiapkan diri untuk menutup ketidakhadiran tersebut.
c)      Masalah antar siswa, masalah antar siswa biasanya terjadi karena kondisi emosional yang tidak terkendali dan tidak terorganisasikan oleh guru. Guru harus memahami karakteristik dan potensi guru sehingga dapat dipahami keseluruhan perilaku masing-masing dan menekan munculnya konflik diantaranya.
d)     Upacara bendera, pada saat upacara bendera siswa harus diorganisasikan berdasarkan tingkatan kelas sehingga mereka dapat tertib mengikuti kegiatan upacara bendera.
e)      Kegiatan lain ; kesehatan dan kehadiran siswa, penyampaian informasi dari sekolah kepada guru dan siswa, peraturan sekolah yang baru, kegiatan rekreasi dan social.

MASALAH DALAM KELAS DAN UPAYA PEMECAHANNYA


MASALAH DALAM  KELAS DAN UPAYA PEMECAHANNYA

    A.    KEBIJAKAN PENANGANAN MASALAH DALAM KELAS
1.      Melakukan Pendekatan Terhadap Siswa
Untuk menangani suatu masalah terhadap siswa maka lakukanlah suatu pendekatan terhadap siswa itu terlebih dahulu. Dalam melakukan pendekatan terhadap siswa guru harus memperhatiakn kondisi sekitar dan melihat dengan baik masalah dari siswa tersebut. Setelah guru mengetahui masalah siswa misalnya siswa yang cendrung suka meribut didalam kelas maka adapun cara guru untuk mengatasi masalah ini yaitu dengan cara melakukan pendekatan terhadap siswa tersebut. Pendekatan itu bisa berupa pemberian perhatian terhadap siswa yang bermasalah tersebut. Pemberian perhatian ini dilakukan dengan cara tersembunyi sehingga tidak menimbulkan kecemburuan terhadap siswa lainnya. Contohnya guru menjadikan siswa yang cendrung meribut tersebut sebagai ketua dalam kelompoknya. Sebagai ketua kelompok siswa memiliki tanggung jawab untuk mengatur anggota kelompoknya. Disitulah letak perhatian yang diberikan oleh guru tersebut yang tidak tampak oleh siswa lainnya.
Dengan pendekatan di atas siswa yang cendrung bermasalah yang terus-menerus diberikan suatu perhatian dan diberikan motifasi yang baik sehingga bisa merubah gaya pola piker siswa yang dulunya cendrung malas dalam belajar sehingga menjadi rajin berlajar, hal inilah pentingnya melakukan pendekatan terhadap siswa tersebut.
2.      Pencarian Data tentang masalah
Dalam suatu kelas ada masalah siswa yang kecil dan ada masalah siswa yang besar. Untuk mengatasi masalah yang kecil ini bisa dilakukan pendekatan berupa pemberian perhatian guru terhadap siswa tersebut. Sedangkan siswa yang masalahnya besar, untuk mengatasi masalah tersebut guru tidak bisa hanya dengan memberikan perhatian saja akan tetapi guru harus meneliti secara baik apa penyebab dari masalah siswa tersebut. Untuk mengetahui masalah tersebut seorang guru mencari data tentang masalah siswa dengan cara melihat lingkungan tempat tinggal siswa dan guru mencari data masalah siswa pada orang tuanya. Untuk mencari data tentang masalah siswa dengan cara mengkonsultasi suatu masalah dengan orang tua siswa seorang guru harus melakukan perencanaan pertemuan, hal ini untuk menghindari ketidak kagetnya orang tua dalam menerima kedatangan guru di rumah.
3.      Melakukan Konsultasi Secara pribadi
Siswa yang memiliki masalah yang cendrung nakal, sebaiknya guru melakukan konsultasi masalah tersebut secara pribadi. Hal ini untuk menghindari pemojokan terhadap siswa dan menghindari supaya siswa tersebut tidak malu dengan teman-temannya. Konsultasi ini dilakukan untuk mencari tahu tentang masalah dari siswa tersebut supaya bisa  mengatasi masalah dari siswa tersebut.

    B.     MACAM - MACAM PERMASALAHAN DALAM MANAJEMEN KELAS
1.      Masalah Perorangan
Penggolongan masalah perorangan ini didasarkan atas anggapan dasar bahwa tingkah laku manusia itu mengarah pada pencapaian suatu tujuan. Setiap individu memiliki kebutuhan dasar untuk memiliki dan untuk merasa dirinya berguna. Jika seorang individu gagal mengembangkan rasa memiliki dan rasa dirinya berharga maka dia akan bertingkah laku menyimpang. Ada empat jenis penyimpangan tingkah laku, yaitu tingkah laku menarik perhatian orang lain, mencari kekuasaan, menuntut balas dan memperlihatkan ketidakmampuan. Keempat tingkah laku ini diurutkan makin lama makin berat. Misalnya, seorang anak yang gagal menarik perhatian orang lain boleh jadi menjadi anak yang mengejar kekuasaan.
Seorang siswa yang gagak menemukan kedudukan dirinya secara wajar dalam suasana hubungan sosial yang saling menerima biasanya (secara aktif ataupun pasif) bertingkah laku mencari perhatian orang lain. Tingkah laku destruktif pencari perhatian yang aktif dapat dijumpai pada anak-anak yang suka pamer, melawak (memperolok), membikin onar, memperlihatkan kenakalan, terus menerus bertanya; singkatnya, tukang rewel. Tingkah laku destruktif pencari perhatian yang pasif dapat dijumpai pada anak-anak yang malas atau anak-anak yang terus meminta bantuan orang lain.
Tingkah laku mencari kekuasaan sama dengan perhatian yang destruktif, tetapi lebih mendalam. Pencari kekuasaan yang aktif suka mendekat, berbohong, menampilkan adanya pertentangan pendapat, tidak mau melakukan yang diperintahkan orang lain dan menunjukkan sikap tidak patuh secara terbuka. Pencari kekuasaan yang pasif tampak pada anak-anak yang amat menonjolkan kemalasannya sehingga tidak melakukan apa-apa sama sekali. Anak-anak ini amat pelupa, keras kepala, dan secara pasif memperlihatkan ketidakpatuhan.
Siswa yang menuntut balas mengalami frustasi yang amat dalam dan tidak menyadari bahwa dia sebenarnya mencari sukses dengan jalan menyakiti orang lain. Keganasan, penyerangan secara fisik (mencakar, menggigit, menendang) terhadap sesama siswa, petugas atau pengusaha, ataupun terhadap binatang sering dilakukan anak-anak ini. Anak-anak seperti ini akan merasa sakit kalau dikalahkan, dan mereka bukan pemain-pemain yang baik (misalnya dalam pertandingan). Anak-anak yang suka menuntut balas ini biasanya lebih suka bertindak secara aktif daripada pasif. Anak-anak penuntut balas yang aktif sering dikenal sebagai anak-anak yang ganas dan kejam, sedang yang pasif dikenal sebagai anak-anak pencemberut dan tidak patuh (suka menetang.
Siswa yang memperlihatkan ketidakmampuan pada dasarnya merasa amat tidak mampu berusaha mencari sesuatu yang dikehendakinya (yaitu rasa memiliki) yang bersikap menyerah terhadap tantangan yang menghadangnya; bahkan siswa ini menganggap bahwa yang ada dihadapannya hanyalah kegagalan yang terus menerus. Perasaan tanpa harapan dan tidak tertolong lagi ini biasanya diikuti dengan tingkah laku mengundurkan atau memencilkan diri. Sikap yang memperlihatkan ketidakmampuan ini selalu berbentuk pasif.
2.      Masalah Kelompok
Ada beberapa masalah kelompok dalam kaitannya dengan pengelolaan kelas:
a.       Kurangnya kekompakan : Kurangnya kekompakan kelompok ditandai dengan adanya kekurang-cocokkan (konflik) diantara para anggota kelompok. Konflik antara siswa-siswa dari kelompok yang berjenis kelamin atau bersuku berbeda termasuk kedalam kategori kekurang-kompakan ini. Dapat dibayangkan bahwa kelas yang siswa-siswa tidak kompak akan beriklim tidak sehat yang diwarnai oleh adanya konflik, ketegangan dan kekerasan. Siswa-siswa di kelas seperti ini akan merasa tidak senang dengan kelompok kelasnya sehingga mereka tidak merasa tertarik dengan kelas yang mereka duduki itu. Para siswa tidak saling bantu membantu.
b.      Kesulitan mengikuti peraturan kelompok : Jika suasana kelas menunjukkan bahwa siswa-siswa tidak mematuhi aturan-aturan kelas yang telah ditetapkan, maka masalah yang kedua muncul, yaitu kekurang-mampuan mengikuti peraturan kelompok.Contoh-contoh masalah ini ialah berisik; bertingkah laku mengganggu padahal pada waktu itu semua siswa diminta tenang; berbicara keras-keras atau mengganggu kawan padahal waktu itu semua siswa diminta tenang bekerja di tempat duduknya masing-masing; dorong-mendorong atau menyela waktu antri di kafetaria dan lain-lain.
c.       Penerimaan kelas (kelompok) atas tingkah laku yang menyimpang :Penerimaan kelompok (kelas) atas tingkah laku yang menyimpang terjadi apabila kelompok itu mendorong timbulnya dan mendukung anggota kelompok yang bertingkah laku menyimpang dari norma-norma sosial pada umumnya. Contoh yang amat umum ialah perbuatan memperolok-olokan, misalnya membuat gambar-gambar yang “lucu” tentang guru.Jika hal ini terjadi maka masalah kelompok dan masalah perorangan telah berkembang dan masalah kelompok kelihatannya lebih perlu mendapat perhatian.
d.      Kurangnya semangat, tidak mau bekerja, dan tingkah laku agresif atau protes. Masalah kelompok yang paling rumit ialah apabila kelompok itu melakukan protes dan tidak mau melakukan kegiatan, baik hal itu dinyatakan secara terbuka maupun terselubung.Permintaan penjelasan yang terus menerus tentang sesuatu tugas, kehilangan pensil, lupa mengerjakan tugas rumah atau tugas itu tertinggal di rumah, tidak dapat mengerjakan tugas karena gangguan keadaan tertentu, dan lain-lain merupakan contoh-contoh protes atau keengganan bekerja.Pada umumnya protes dan keengganan seperti itu disampaikan secara terselubung dan penyampaian secara terbuka biasanya jarang terjadi.

   C.    SOLUSI DALAM MENGATASI PERMASALAHAN MANAJEMEN KELAS
a.       Mengenal secara tepat berbagai masalah pengelolaan kelas baik yang bersifat perorangan maupun kelompok
Untuk mengenal secara tepat berbagai masalah pengelolaan kelas baik yang bersifat perorangan maupun kelompok ini dilakukan dengan guru harus memperhatikan secara baik mengenai kondisi dalam dalam kelas dan mengenal secara baik karakter dari individu dan kelompok dalam kelas tersebut.
b.      Memahami pendekatan yang cocok dan yang kurang cocok untuk jenis masalah tertentu
Dalam suatu kelas guru harus memahami pendekatan yang cocok dan yang kurang cocok untuk jenis masalah dalam suatu kelas maka seorang guru harus melihat secara baik karakter dari siswa tersebut, karena dalam suatu kelas siswa memiliki karakter yang berbeda-beda maka dari itu seorang guru harus pandai dalam mengkondisikan kelas.
c.       Memilih dan menetapkan pendekatan yang paling tepat untuk memecahkan masalah.
Dalam suatu kelas guru harus pandai dalam memilih dan menetapkan pendekatan yang paling tepat untuk memecahkan masalah hal ini berguna untuk mengatasi kekacauan dalam suatu kelas.